Algoritma yang memanipulasi

Hampir semua nama-nama besar di internet, tidak pernah meminta bayaran dari user untuk memakai layanan media sosial mereka.

Sebut saja google, facebook, instagram, whatsapp, x, tiktok, reddit dan sebagainya. Tapi kalau kita lihat ukuran perusahaan mereka, rata-rata adalah perusahaan besar di dunia.

Artinya mereka menghasilkan pemasukan uang yang tidak sedikit.

Mereka bergantung sepenuhnya dengan data yang di hasilkan pengguna, lalu menukarnya atau menjualnya kepada perusahaan iklan atau pengiklan, yang menghasilkan keuntungan dengan cara menghasilkan penjualan suatu barang atau jasa.

Tiktok misalnya, melakukan berbagai pengumpulan data user, dari sekedar perilaku user ketika melakukan scrolling, hingga memonitor pergerakan mata, mulut, suara. Bahkan beberapa data menunjukan, Tiktok melakukan pengukuran detak jantung penggunanya.

Semua data dari pengguna media sosial akan digunakan untuk masukan algoritma. Algoritma tersebut tidak hanya untuk tujuan ekonomi. Tapi sekarang ini algoritma digunakan untuk keperluan politik, menjatuhkan lawan, menyebarkan informasi yang salah, dan berbagai macam tujuan lain.

Algoritma dibuat untuk memonitor dan membaca semua data dari pengguna, kemudian algoritma akan mencari konten apa yang menarik untuk pengguna individu, dan menampilkan iklan apa yang sekiranya sesuai dengan perilaku pengguna. Bahkan algoritma tersebut mampu untuk membaca dan memperkirakan alam bawah sadar penggunanya.

Perusahaan media sosial menggunakan algoritma untuk secara terus menerus belajar dari scroll, klik, like dan komentar pengguna. Semakin lama pengguna melakukan scrolling, melakukan like dan memberikan komentra, maka algoritma itu akan semakin tahu tentang pengguna media sosial.

Platform media sosial sudah sangat cerdas untuk memberikan kita konten yang menarik, yang membuat jari-jari kita terus melakukan scrolling dan memberikan like. Itu semua didapatkan dari kegiatan kita sendiri, apa yang kita cari, apa yang kita klik, siapa yang kita follow. Semuanya dibuat seolah-olah ter personalisasi untuk kita.

Kita juga akan melihat bahwa ide-ide yang sama akan selalu tampil di layar berulang-ulang. Ini dinamakan Echo Chamber. Semua konten dengan tema atau ide yang sama akan selalu di tampilkan. Jika kita menyukainya, yang ditandai dengan kita melihat konten tersebut dalam waktu lama, atau menekan tombol like, kita akan melihat semakin banyak. Ini dinamakan Engagement.

Tapi jika tidak, maka tidak akan ditampilkan lagi.

Penampilan yang selektif ini akan membawa pengguna masuk ke dalam echo chamber, dimana hanya ditampilkan konten yang sesuai dengan profile kita, menggiring psikologi kita untuk mempercayai bahwa konten tertentu adalah benar, sedangkan konten lain yang tidak ditampilkan adalah salah.

Tidak berhenti sampai di situ, media sosial juga tahu bagaimana menghasilkan dopamin di otak kita. Membuat kita ketagihan notifikasi, like dan share. Setiap kali kita mendengar ada notifikasi masuk, otak memproduksi dopamin, yang membuat kita ingin untuk segera melihat notifikasi itu.

Ketagihan dopamin akan menyebabkan kita selalu merasa kurang, FOMO, insecure secara sosial, berujung pada rasa cemas, dan depresi.

Penyebaran informasi yang keliru, adalah salah satu hasil dari media sosial, berita yang keliru bisa menyebar lebih cepat dari berita yang benar. Kenapa ? karena algoritma tidak memperdulikan apakah berita itu benar atau salah, hanya memperhatikan engagement, banyak di tonton

Berita-berita tentang kekerasan, kemarahan, keterkejutan, dan emosi-emosi lain, memiliki engagement yang tinggi. Konten yang memicu reaksi-reaksi emosional menyebar dengan cepat. Algoritma mengenali pola ini dan mendorong konten tersebut lebih jauh, menyebarkannya ke layar penonton lebih banyak dan cepat. Benar atu tidaknya berita itu, tidak soal bagi algoritma

Engagement lebih di pentingkan daripada keakuratan berita. AKibatnya berita dan informasi palsu lebih mudah mendapatkan perhatian. Pembuat konten yang sengaja menyebarkan informasi dan membuat orang lain menyebarkannya berdasarkan sumber yang mereka percaya, tapi tidak sadar bahwa itu adalah berita yang salah.

Sekali pengguna terjebak dalam gelembung algoritma, semakin mudah informasi yang salah menyebar dengan cepat. Manusia hanya percaya apa yang ia mau percaya, dan ketika mereka melihat bukti-bukti yang mengkonfirmasi pikiran dan pandangan mereka, sangat jarang mereka berhenti sejenak untuk bertanya dan menelaah kebenarannya.

Algoritma merupakan instrumen untuk mempengaruhi, apakah itu politik, budaya, atau sekedar perlakuan konsumen, mereka membentuk opini yang sangat sukar di deteksi.

Pernah merasa bahwa iklan begitu spesifik di tampilkan ? Itu karena algoritma menggunakan microtargeting, berdasarkan data yang di kumpulkan. Iklan bisa dibuat sangat spesifik, kepada pembeli tertentu, kelompok tertentu, atau bahkan pemilih dalam politik. Konten yang ditampilkan hanya akan berisi kandidat-kandidat tertentu.

Hasilnya ? kelompok suara pemilih dapat bergeser, dengan jalan merubah pandangan personal, yang sebenarnya adalah bagian dari usaha-usaha yang masif dan terkoordinasi.

Dan echo chamber kembali berperan. Algoritma akan memberikan konten dengan perspektif dan pandangan yang lebih sempit. Pandangan politik akan lebih mudah untuk di buat terpolarisasi. Orang akan lebih sulit merubah pandangannya, dengan tidak mau atau dibuat tidak bisa mendengar opini, atau berita-berita dari pihak lawan.

Setiap hari kita akan di tampilkan informasi dengan topik yang hangat dan berkembang. Tapi itu sekedar bahwa algoritma memutuskan topik mana yang akan mendapatkan perhatian, dan memunculkan di publik, sertia membangunnya di ruang kesadaranan publik. Ini akan dapat dengan mudah menjadi bahan bakar sesuatu yang viral dan kecendrungan merusak.

Jangan lupa peran influencer, atau bintang sosial media yang punya kekuatan untuk menentukan mana yang bagus atau tidak. Secara hati-hati influencer mengatur dan mengkurasi hidup dan memilih apa yang bagus untuk di tampilkan. Algoritma memperkuat ini, berdasar kekuatan pengaruh, yang di tentukan oleh jumlah pengikut, jumlah like dan penonton. Apakah itu tren fashion, memaerkan harta, hukum sosial, atau opini opini kontroversi, influencer akan mendapakan amplifikasi begitu besar, semua karena algoritma.

Dalam masa algoritma, setiap scrol, klik, dan like, membuat algoritma semakin pintar. Kemudian akan memanipulasi, mengkapitalisasi. Hasilnya, perilaku kita, pikiran kita, kepercayaan kita, terbentuk menjadi sesuatu yang kita tidak sadar.

Jadi kalau waktu scroling medsos, ingat, algoritma sedang mempelajari anda, dan menyuapi anda dengan konten-konten.