“Saya seorang introvert, gak bisa bekerja ketemu orang”, begitu teman saya bilang.
Melabeli dirinya yang tanpa latar belakang akademik psikologi, dengan suatu kondisi yang seharusnya merupakan hasil assesment atau diagnosa.
Dengan alasan introvert, banyak orang kehilangan kesempatan untuk berkembang. Selalu bersembunyi di balik kata-kata introvert. Mereka enggan bersosialisasi, enggan menampilkan karya-karya, bahkan enggan datang ke suatu tempat. Bahkan ada beberapa orang yang enggan bersekolah dengan alasan introvert.
Saya sendiri seorang introvert mungkin di bilang parah. Dunia saya hanya sebatas tangan saya menjulur. Sejak kecil saya selalu ketakutan untuk bertemu dan berbicara dengan orang lain. Walaupun itu adalah kakak kandung, atau orang tua saya sendiri.
Tempat keramaian, yang bising dan banyak orang, selalu membuat saya ketakutan, dan kuatir.
Saya merasa saya tidak memerlukan interaksi sosial dengan orang lain. Energi, pemikiran, dan aktifitas hanya berfokus pada diri sendiri. Waktu lebih banyak saya habiskan sendiri untuk berpikir dan merenung.
Interaksi sosial membuat energi terkuras habis, karena terlalu banyak berpikir dan kuatir tentang interaksi sosial itu sendiri.
Terus terang, saya lebih menyukai lingkungan yang tenang, karena memang saya mendapatkan kenyamanan dari tempat yang tenang dan tidak terlalu banyak orang.
Ketika berada di suatu tempat, saya lebih suka memperhatikan dan mengamati hal-hal kecil yang terjadi di sekeliling, untuk bercakap-cakap buat saya terlalu sulit.
Belakangan setelah banyak membaca, saya tahu bahwa setiap manusia selalu punya sisi introvert dan ekstrovert.
Tidak ada manusia yang 100% introvert atau 100% ekstrovert.
Introvert sering disalahpahami sebagai orang yang tidak ramah, anti-sosial, atau pemalu. Mereka mungkin terlihat lebih diam dalam situasi sosial, tetapi itu tidak berarti mereka tidak tertarik atau tidak suka berinteraksi.
Introvert adalah salah satu varian kepribadian alami, bukan penyakit atau kekurangan. Mereka memiliki kekuatan dan kelebihan tersendiri, seperti kemampuan berpikir mendalam, kreatif, dan fokus pada detail.
Menurut saya introvert adalah sebuah fitur kepribadian, bukan sebuah kekurangan yang membuat kita kehilangan kesempatan.
Saya memutuskan untuk menerima kekurangan, kemudian melatihnya. Saya mulai belajar bicara, dan berinteraksi dengan orang lain.
Ketakutan tetap ada, bahkan sampai sekarang. Tapi yang terpenting adalah bagaimana mengatasi ketakutan itu.
Tidak perlu menggunakan alasan introvert, hanya untuk menghindari tantangan.