Bekerja remote adalah sebuah keistimewaan yang didapat sekelompok pekerja yang bekerja pada sektor tertentu. Tidak semua pekerjaan bisa dilakukan secara remote. Dan tidak semua pemberi kerja memberikan fasilitas atau kemudahan untuk work from anywhere.
Tingkat 1, perusahaan tidak memberikan keleluasaan untuk bekerja secara remote. Walaupun punya fasilitas yang memungkinkan untuk melakukan ini. Perusahaan punya internet, email, telepon, bahkan aplikasi-aplikasi kolaboratif. Tapi kehadiran fisik tetap diperlukan.
Tingkat 2, perusahaan mengijinkan bekerja secara remote. Tapi pekerja hanya memindahkan kantor, ke rumah masing-masing, atau ke lokasi lain. Sudah tidak lagi memerlukan kehadiran fisik, tapi pekerja tetap harus melakukan absen, dan bekerja online sesuai dengan jam kerja.
Kebanyakan perusahaan ada di tingkat 1 dan 2. Bekerja masih memerlukan eksistensi, sesuai waktu.
Tingkat 3, perusahaan tidak lagi memerlukan kehadiran fisik sebagai indikator produktifitas. Aplikasi kolaboratif digunakan secara intensif. Dokumen, file, email, dan perangkat manajemen dilakukan secara kolaboratif online.
Masing-masing individu mengambil peran secara aktif dalam suatu pekerjaan. Komunikasi tulis yang efektif menjadi wajib dan sangat penting.
Meeting atau rapat, dilakukan secara online, dan sudah tidak lagi menjadi sarana komunikasi, tapi sudah menjadi sarana kolaboratif.
Tingkat 4, merupakan transformasi dari tingkat 3, dimana komunikasi terjadi secara asinkron. Email atau sarana komunikasi lainnya, tidak perlu respon secara instan. Ketika hal yang sifatnya penting muncul, komunikasi terjadi antara komponen yang memang benar-benar dibutuhkan.
Pada tingkat ini, sistem kolaboratif sudah terbentuk dengan sangat baik. Masing-masing komponen memahami detail pekerjaan. Perusahaan yang sudah sampai tingkatan ini, tidak lagi mengukur produktifitas berdasar kehadiran dan waktu, semua berdasarkan objektif pekerjaan yang jelas, detil.
Tingkat 5, kelanjutan dari tingkat 4, hanya pekerjaan sudah terdistribusi, tim yang bekerja benar-benar sudah mandiri. Masing-masing anggota tim punya objektif yang sama, dan memandang objektif organisasi adalah yang utama.
TIngkat 4 dan 5 ini masih sangat sulit untuk dilakukan. Mungkin kita bisa mengambil contoh dari model pengembangan software open source. Dimana sekelompok orang secara suka rela bekerja untuk mengembangkan sebuah software.
Pemanfaatan email, dan tool kolaboratif, sangat intensif, dalam proses pengembangannya.
Sistem operasi Linux, contohnya. Komunikasi para anggota tim, hanya dilakukan melalui email. Hasil pekerjaan masing-masing orang, dievaluasi bersama, dan diputuskan oleh 1 orang, yaitu Linus Torvalds, pencipta linux.
Masing-masing tim pengembang sadar objektif mereka masing-masing, dan punya visi yang sama.